Perkembangan e-commerce dan marketplace online di Indonesia membuat tren belanja masyarakat terus meningkat. Namun di antara peningkatan aktivitas tersebut, muncul sebuah cara belanja yang unik.
“Di awal, kita identify ada aktivitas belanja (online) dengan cara berbeda yang masih terjadi tanpa ada satu platform khusus,” ujar Didit Setiadi, CEO Hellobly. Aktivitas yang ia maksud adalah jasa titipan atau jastip.
Didit mengungkapkan hasil riset internal yang dilakukannya dua tahun lalu. Ia menghitung dan membandingkan jumlah tagar #jastip di beberapa media sosial. Hasilnya, tagar tersebut lebih banyak ditemukan di Instagram dibandingkan media sosial lain.
Riset ini dilakukan Didit sebelum memulai bisnisnya. Kini, ia dan tim menciptakan platform yang terintegrasi dengan Instagram untuk mewadahi para pelaku jastip.
Salah satu pelaku usaha jastip ini adalah Nabila, ia memulai bisnisnya sejak awal 2018 lalu. Bermula dari event pameran Mother and Baby Fair yang secara rutin diselenggarakan di beberapa kota setiap tahun, Nabila mulai memanfaatkan peluang ini.
Ketika pertama kali melakoni bisnis jastip, Nabila mengaku mampu meraih omzet Rp50 juta dalam sekali pameran. Begitu pula ketika di pameran Big Bad Wolf 2019 lalu, transaksi yang ia lakukan untuk membeli barang titipan berkisar di angka yang tak jauh berbeda.
Beberapa tahun lalu, belum ada platform yang mewadahi usaha jastip di Indonesia. Sejak banyak pameran-pameran bertema khusus yang digelar di Jakarta, model bisnis ini makin berkembang pesat.
Kini banyak bermunculan platform yang menjadi tempat bagi para pelaku jastip, di antaranya Hellobly, Airfrov, Neetip.id, dan Gibby.id. Hellobly sendiri didirikan oleh empat orang yang punya pengalaman bekerja di bidang e-commerce selama kurang lebih lima tahun.
Setelah melakukan observasi dan survei beberapa sampel pelaku jastip di lapangan, Didit Setiadi, Anang Zakiyaman, Adhitya Dwitama, dan Fandy Gotama memutuskan untuk fokus membuat platform marketplace jastip. Didit dan kawan-kawan melihat fenomena jastip sebagai peluang untuk mengembangkan model bisnis baru yang sudah banyak dilirik, namun belum terintegrasi.
“Awalnya dari situ terus kita ideation. Kita coba mengukur seberapa besar pasarnya dengan cara riset kecil-kecilan,” ujar Didit. “Kita tanya majority, jadi dari delapan puluh persen sampling kita ambil dari orang yang pernah belanja online.”
Untuk pihak penitip, mereka menyasar ibu rumah tangga, wanita pekerja, dantrend enthusiast sebagai target pasar. Sedangkan untuk sisi pelaku jastip, mereka menargetkan para local expert, atau orang-orang yang berdomisili dan familier dengan pusat perbelanjaan di daerah tempat tinggal masing-masing.
“Tapi kalau ngomongin soal market size-nya sendiri, kita emang enggak bisa. Sampai sekarang belum ada orang yang mendata berapa sih jumlah transaksi atau market size orang yang titip menitip.”
Berdasarkan observasi Hellobly selama setahun belakangan, masih banyak hal yang harus dikembangkan dalam pengembangan platform komunitas jastip. Beberapa hal yang menjadi kendala dan tantangan utama adalah terjadinya transaksi di luar platform, serta mengubah kebiasaan para pelakunya.
Contohnya ketika kesepakatan terjadi di platform, pembayaran transaksi justru dilakukan di luar. Kebiasaan semacam ini juga berpotensi menciptakan fraud, seperti hit and run.
Pelanggan sudah melakukan pemesanan dan pembayaran uang kepada pelaku jastip, namun kemudian barang yang disepakati tidak kunjung dikirimkan. Atau sebaliknya, barang pesanan sudah dibelikan, namun pembeli tak kunjung membayar. Kejadian semacam ini membuat transaksi menjadi kurang aman, baik bagi pelaku maupun penitip akibat tidak ada pengawasan.
Potensi penipuan berbentuk online seperti ini perlu dimitigasi, salah satunya dengan cara menciptakan fitur pemesanan dan pembayaran tunggal di dalam platform. Dengan demikian, pihak ketiga dapat berperan dalam mengawasi transaksi dan memberi jaminan uang kembali bagi kedua belah pihak apabila terjadi kendala.
“Di awal, kita identify ada aktivitas belanja (online) dengan cara berbeda yang masih terjadi tanpa ada satu platform khusus,” ujar Didit Setiadi, CEO Hellobly. Aktivitas yang ia maksud adalah jasa titipan atau jastip.
Didit mengungkapkan hasil riset internal yang dilakukannya dua tahun lalu. Ia menghitung dan membandingkan jumlah tagar #jastip di beberapa media sosial. Hasilnya, tagar tersebut lebih banyak ditemukan di Instagram dibandingkan media sosial lain.
Riset ini dilakukan Didit sebelum memulai bisnisnya. Kini, ia dan tim menciptakan platform yang terintegrasi dengan Instagram untuk mewadahi para pelaku jastip.
Usaha jastip sebagai pekerjaan utama
Salah satu pelaku usaha jastip ini adalah Nabila, ia memulai bisnisnya sejak awal 2018 lalu. Bermula dari event pameran Mother and Baby Fair yang secara rutin diselenggarakan di beberapa kota setiap tahun, Nabila mulai memanfaatkan peluang ini.
Kemunculan platform khusus
Beberapa tahun lalu, belum ada platform yang mewadahi usaha jastip di Indonesia. Sejak banyak pameran-pameran bertema khusus yang digelar di Jakarta, model bisnis ini makin berkembang pesat.
Kini banyak bermunculan platform yang menjadi tempat bagi para pelaku jastip, di antaranya Hellobly, Airfrov, Neetip.id, dan Gibby.id. Hellobly sendiri didirikan oleh empat orang yang punya pengalaman bekerja di bidang e-commerce selama kurang lebih lima tahun.
Setelah melakukan observasi dan survei beberapa sampel pelaku jastip di lapangan, Didit Setiadi, Anang Zakiyaman, Adhitya Dwitama, dan Fandy Gotama memutuskan untuk fokus membuat platform marketplace jastip. Didit dan kawan-kawan melihat fenomena jastip sebagai peluang untuk mengembangkan model bisnis baru yang sudah banyak dilirik, namun belum terintegrasi.
![]() |
| Hellobly.com |
“Awalnya dari situ terus kita ideation. Kita coba mengukur seberapa besar pasarnya dengan cara riset kecil-kecilan,” ujar Didit. “Kita tanya majority, jadi dari delapan puluh persen sampling kita ambil dari orang yang pernah belanja online.”
Untuk pihak penitip, mereka menyasar ibu rumah tangga, wanita pekerja, dantrend enthusiast sebagai target pasar. Sedangkan untuk sisi pelaku jastip, mereka menargetkan para local expert, atau orang-orang yang berdomisili dan familier dengan pusat perbelanjaan di daerah tempat tinggal masing-masing.
“Tapi kalau ngomongin soal market size-nya sendiri, kita emang enggak bisa. Sampai sekarang belum ada orang yang mendata berapa sih jumlah transaksi atau market size orang yang titip menitip.”
Hambatan dan kendala platform jastip
Berdasarkan observasi Hellobly selama setahun belakangan, masih banyak hal yang harus dikembangkan dalam pengembangan platform komunitas jastip. Beberapa hal yang menjadi kendala dan tantangan utama adalah terjadinya transaksi di luar platform, serta mengubah kebiasaan para pelakunya.
Contohnya ketika kesepakatan terjadi di platform, pembayaran transaksi justru dilakukan di luar. Kebiasaan semacam ini juga berpotensi menciptakan fraud, seperti hit and run.
Pelanggan sudah melakukan pemesanan dan pembayaran uang kepada pelaku jastip, namun kemudian barang yang disepakati tidak kunjung dikirimkan. Atau sebaliknya, barang pesanan sudah dibelikan, namun pembeli tak kunjung membayar. Kejadian semacam ini membuat transaksi menjadi kurang aman, baik bagi pelaku maupun penitip akibat tidak ada pengawasan.
Potensi penipuan berbentuk online seperti ini perlu dimitigasi, salah satunya dengan cara menciptakan fitur pemesanan dan pembayaran tunggal di dalam platform. Dengan demikian, pihak ketiga dapat berperan dalam mengawasi transaksi dan memberi jaminan uang kembali bagi kedua belah pihak apabila terjadi kendala.
Referensi

Komentar
Posting Komentar